Saturday, October 29, 2016

Lipstick dan Dorongan Untuk Jadi Lebih Berani

Let’s Put On Your Favorite Lipstick

Sumber gambar: tumblr.com

2016 memang belum berakhir, tapi kalau boleh mengambil satu trend besar di tahun ini, itu tentang lipstick. Terlebih liquid lipstick—perpanjangan dari 2015 sebenarnya. Banyak online shop khusus lipstick bermunculan. Seleb-seleb ngeluarin line lipstick sendiri—I’m still craving Kylie Lip Kit, entah itu internasional ataupun seleb Indonesia. Bahkan brand lipstick local juga banyak bermunculan—Wardah and Mineral Botanical are my favorite.
Dan gue juga ikut terkena dampak lipstick. Tepatnya sejak tahun lalu, sih. Gue juga enggak ngerti kenapa bisa kena dampak lipstick. Gue emang enggak dandan, bahkan dulu aja pakai lipstick males. Tapi begitu kenal, serasa kena hipnotis gitu.
And now I can’t live without lipstick.
I don’t want to write a review or talk about any lipstick brand. I’m not a reviewer nor a beauty blogger. Tapi gue cuma pengin ngomong soal lipstick dan efeknya terhadap hidup gue.
Bisa dibilang dulu gue enggak pede pakai lipstick. Apalagi yang warna terang. Duh, masa iya sehari-hari aja pakai lipstick warna terang? Sampai suatu ketika, gue nyobain lipstick warna dark red. Dan ternyata enggak selebay yang gue pikir. Sejak saat itu gue mulai mencoba banyak warna lipstick. Enggak disangka-sangka, gue jadi tenggelam dalam dunia perlipstickan. Gue mulai hafal brand yang bagus mana. Gue mulai tahu di mana beli lipstick yang oke. Gue mulai banyak ngabisin kuota internet dengan jalan-jalan di Instagram mencari warna lipstick yang oke di online shop. Yang pasti, pengetahuan gue tentang perlipstickan bertambah dan tentunya, total duit yang dikeluarin buat lipstick juga bertambah, he-he.
Ketika mencoba lipstick gue enggak membatasi diri pada pakem tertentu. Gue coba yang warna standar, shocking color, dark color, nude color, anything. Lipstick matte emang hits banget dan gue suka karena nempel lama di bibir dan enggak glossy. Dan karena gue enggak dandan, lipstick yang tepat bisa bikin muka enggak kelihatan terlalu pucat.
Lewat lipstick juga gue jadi berani mencoba sesuatu yang selama ini gue rasa enggak mungkin. Gue berani berekspresi lewat warna. Gue jadi lebih pede dan sebodo amat dengan kata orang. Contohnya ketika gue pengin tampil gothic serba hitam from head to toe, enggak lupa gue nambahin lipstick dark purple. Meski kata orang kayak jurig lah, atau hebohlah, bagi gue itu enggak dimasukin ke pikiran. Emang, sih, pas beli warna-warna berani gue mikir apa gue berani makenya? Trus gue diingetin sama salah seorang teman di kantor, sebut saja namana Mbak S. Dia bilang, “Kalau lo emang suka, ya kenapa enggak beli? Kan elo yang suka.”
Benar juga, sih. Gue ini yang suka, kenapa gue harus batal beli karena omongan orang? Di situ gue ngerasa ada yang berubah dari diri gue. Selama ini gue selalu lebih dengerin kata orang. Pengin lakuin sesuatu, nanya orang dulu dan ambil keputusan dari perkataan orang. Siapa sangka kalau sebatang lipstick memberi efek besar buat gue?
It’s not just about a lipstick. There is something special behind it.
Jadi sekarang, setiap pagi gue selalu meluangkan waktu buat mikir mau pakai lipstick yang mana ya? I’m not a lipstick junkie. I’m just lipstick lover. Jumlah lipstick gue enggak banyak, masih bisa dihitung dengan jari. Tapi warnanya emang beragam.
Satu hal lagi yang gue sadari, gue suka warna-warna terang dan itu cocok sama style gue. Red, dark pink, cokelat tua, I loooove that. Sesekali gue tampil tone down dengan warna nude, tapi agak susah milih warna nude yang pas karena salah-salah malah kayak orang sakit. Sesekali, kalau lagi pengin tampil gothic, gue dengan senang pakai lipstick dark purple gue.
Dan ketika menulis artikel ini, gue baru aja nerima kiriman lipstick shocking pink dari Rimmel. Warna yang berani, sebagai penanda kalau little by little I become a brave girl.
XOXO

iif

0 komentar:

Post a Comment